Giri Post
Ramah & Bijaksana
Entri Populer
600 ANAK YATIM, LAYANGKAN CITA-CITANYA DENGAN BALON KEUDARA
Beragam keinginan 600 anak Yatim Piatu saat mereka oleh panitia Yayasan Yatim Mandiri disodori secarik kertas untuk menulis keinginan d...
WARUNG PANGKON ICON GRESIK ( BAGIAN 1 )
Manyar (GP) Kota gresik yang terkenal dengan sebutan kota santri , tumbuh menjamur warung kopi yang mana sebagai sarana untuk berkumpul ,tuk...
SBY Instruksikan Investigasi Menyeluruh Insiden Ahmadiyah
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan investigasi menyeluruh terhadap insiden penyerangan Jamaah Ahmadiyah...
Press Release Panitia MUSDA II PKS Gresik
Gresik ( GP ) Pasar merupakan symbol dari tradisi masyarakat gresik yang perlu dilestarikan selain letak dan posisinya yang strategis pasar ...
Jelang Final Piala AFF
Jakarta (GP)- Timnas Indonesia sedang menjadi primadona buat masyarakat Indonesia karena performa gemilang hingga babak semifinal Piala AFF...
Penyerangan di Toilet Citos
Citos Aman, Toilet Dijaga Petugas Cleaning Service Jakarta - Pengamanan toilet Cilandak Town Square (Citos) dipertanyakan menyusul pe...
Ayam Tampa Kepala
Kuala Lumpur (GP)- Cukup sudah kekalahan 1-5 di awal Desember itu, demikian ucap Malaysia. Skuad arahan Rajagobal Khrisnasamy itu tak mau l...
Refly: Sebagai Whistle Blower, Dirwan Harusnya Dilindungi
Jumat, 24/12/2010 12:45 WIB Kasus MK Refly: Sebagai Whistle Blower , Dirwan Harusnya Dilindungi Ilustrasi Jakarta - Refly Harun menyay...
7 Jan 2011
Cermin Pemimpin: Cucuran Air Mata dan Sesenggukan Hati Bukan Untuk Ambil Simpati Belaka
Kamis, 6 Januari 2011 11:03:04
Ketika dibaiat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu-sedu.
Beberapa penyair mendatanginya dengan maksud menghiburnya, tapi ia menolak. Melihat ayahnya menangis hampir seharian, anaknya juga berusaha mencari tahu penyebabnya, tapi tidak berhasil. Istrinya, Fatimah, lantas menemuinya dan bertanya, "Wahai suamiku, mengapa engkau menangis seperti ini?" Umar pun menjawab, "Sungguh aku telah diangkat untuk memimpin urusan umat Muhammad SAW.
Aku lalu termenung memikirkan nasib para fakir miskin yang sedang kelaparan, orang-orang sakit yang tidak bisa berobat, orangorang yang tidak bisa membeli pakaian, orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membela, orang-orang yang memiliki keluarga besar tapi hanya mempunyai sedikit harta, orangorang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang ditawan atau dipenjara, serta orang-orang yang bernasib menderita di pelosok negeri ini. Aku sadar dan tahu bahwa Allah pasti akan meminta pertanggungjawabanku amanah ini. Namun, aku khawatir tidak sanggup memberikan bukti bahwa aku telah melaksanakan amanah ini dengan baik sehingga aku menangis."
Seraya menyeka air matanya, ia mengutip ayat, "Sesungguhnya aku takut kepada siksa hari yang besar (kiamat) jika mendurhakai Tuhanku."(QS Yunus [10]: 15).
Adakah pemimpin saat ini yang memiliki kesadaran eskatologis (pertanggungjawaban di hari akhir) seperti Umar? Faktanya, para pemimpin cenderung berpesta pora ketika memperoleh kemenangan dalam pemilu (pilpres dan pilkada), padahal amanah yang diberikan kepadanya itu sungguh berat dan harus dipertanggungjawabkan kepada publik dan di hadapan pengadilan Allah SWT kelak.
Menyadari betapa rakyatnya masih banyak yang miskin, menderita, dan sengsara, Umar memutuskan tidak tinggal di istana, tapi hanya menempati rumah sederhana tanpa pengawal pribadi dan satpam.
Beliau juga menolak menggunakan fasilitas negara, termasuk berbagai perhiasan yang diwariskan Khalifah Malik bin Marwan untuk istrinya.
Ketika syahwat politik untuk berkuasa membara, seseorang biasanya menjual diri dengan janjijanji politik yang muluk-muluk. Tapi ketika berkuasa, ia cenderung lupa dan tidak sadar diri. Janji tinggal janji. Keadilan tidak ditegakkan. Kekuasaan dijalankan menurut hawa nafsunya. Rakyat dilupakan, bahkan disengsarakan.
Begitulah potret penguasa yang lupa diri sekaligus lupa Allah SWT. "Janganlah kamu seperti orang orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS al-Hasyr [59]: 19).
Karena itu, penguasa harus sadar diri bahwa kekuasaan itu bukan kesempatan untuk meraih kenikmatan, tapi kesempatan untuk mengemban amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan publik dan Allah SWT.
Figur seperti Umar bin Abdul Aziz itulah pemimpin teladan yang sadar diri, tidak lupa rakyat, sekaligus tidak lupa kepada Allah SWT. Sungguh karakter pemimpin seperti itu di negeri ini masih sangat langka, meski kita sudah lama mendambakannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimah kasih atas kunjungannya......
Posting Lebih Baru
Posting Lama
Beranda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimah kasih atas kunjungannya......